Archive for April, 2008

Curhatan tidak penting

Sejujurnya, boleh dibilang saya ini pelanggan yang ga banyak tingkah…
meski bertahun2 jadi pelanggan, tidak pernah ada kebijakan penurunan tarif layanan pasca bayar m a t r i x ya sudah, banyak sabar… paling juga sedikit ngedumel, itu juga dalam hati. Cuma diingat-ingat saja untuk selalu jaga, jangan terlampau boros penggunaan.

Dengan semarak perang tarif kali ini, akhirnya hampir semua operator seluler berusaha menurunkan tarif. Dengan adanya aturan baru dari pemerintah, yang menurunkan tarif interkoneksi, maka semakin menjadilah perang tarif ini. Ada yang memulai dengan tarif dibawah rp 1/detik, hingga menjadi rp0,0000000000000000001/dtk (tapi jangan lupakan syarat dan ketentuannya yang panjang seabreg) hingga yang menelpon sampai puas.

Akhirnya, tarif dasar m a t r i x pun ikut turun, bersyukurkah saya? Hm, pikir-pikir dulu deh.
Belakangan ini koneksi semakin kacau, apakah penurunan tarif diikuti dengan kemampuan operator seluler mengantisipasi kenaikan lalulintas komunikasi? sepertinya harus dipertanyakan lagi.

Jujur saja, penurunan tarif nya, dibanding promosi layanan pra bayar, sangat tidak bersaing (alias tetap lebih mahal) lalu, kenapa kualitas koneksinya pun tetap harus dikebiri?

Leave a Comment

Gaptek

Malas utak atik?

lanjutan

Leave a Comment

Kedewasaan

Kedewasaan… yang aku pahami adalah perpaduan dari keberanian dan perhitungan yang matang.

Keberanian tanpa perhitungan, konyol namanya. Sedang perhitungan tanpa keberanian, jadinya pengecut.

Menjadi orang yang dewasa sebenarnya adalah pilihan, bukan sebuah keterpaksaan, bukan ketidak sengajaan.

Boleh jadi dalam banyak waktu dan tempat, kita belum dewasa, dalam waktu lainnya bisa menunjukkan kedewasaan itu. Tapi tentunya kita semua akan setuju tentang bentuk kedewasaan saat kita melihatnya (artinya kita tahu mana yang merupakan pilihan dewasa atau pilihan yang kekanak-kanakan)

Ambillah contoh saat ada kesempatan kita direndahkan orang lain. Banyak pilihan kita untuk reaksi baliknya. Bisa marah, bisa menangis, bisa berteriak-teriak, bisa mengajak berkelahi, tapi ada juga pilihan kita untuk berdiskusi dengan pihak yang merendahkan, atau menasehati, atau bahkan diam. Semua sikap itu adalah pilihan. Pilihan apa yang kita pilih akan memperlihatkan kedewasaan kita.

Saya tidak bisa berkata bahwa satu pilihan selalu benar dalam setiap kondisi dan situasi. Bisa jadi pilihan satu menjadi benar pada saat tertentu, dan menjadi salah pada saat yang lain, tergantung situasinya.

Mudah-mudahan kita bisa jadi orang-orang yang dewasa, dewasa dalam berfikir, dewasa dalam bertindak. Jadi apa pilihan kita?

*Renungan atas seringnya aku kehilangan kontrol hingga memilih sikap kekanak-kanakan :(

Comments (2)