Pernah terpikir oleh saya tentang profesi pencari bakat. Profesi yang mungkin jarang ditemui di Indonesia. Bukan karena orang Indonesia tidak berbakat loh, tapi mungkin profesi ini masih dianggap terlalu berisiko dibandingkan menjadi PNS atau pegawai swasta (tapi mungkin juga sekarang malah menggeliat dengan berbagai acara televisi pencarian bakat menyanyi, akting, menari, komedi dll ya?). Para pencari bakat bepergian dari kota ke kota mencari benih-benih tersembunyi, intan yang belum terasah, dan mutiara dalam laut yang belum tersentuh.
Tanpa kita sadari, profesi pencari bakat sebenarnya sudah ada sejak kita mengenal istilah ibu dan atau istri. Para ibu dan istri adalah pencari bakat alami, yang diturunkan Tuhan untuk terus mencari, mengarahkan, memotivasi anak dan suaminya untuk menemukan bakat-bakat karuniaNya.
Manager
Jangan terkejut dengan acara mamamia, di mana seorang ibu menjadi manager anak-anaknya. sejak kita mengenal dunia, memang beliaulah manager kita (bila jabatan manager itu termasuk juga menyiapkan makan tengah malam, membersihkan popok dan memandikan). Begitu pula seorang istri, dia adalah manager bagi suaminya, dialah yang menyiapkan segala fasilitas kehidupan sang suami sebelum bekerja, menjaga rumah tangga tentram, dan memberikan senyuman yang akan selalu dirindukan suami meski saat sang suami bekerja jauh dari rumah. Jabatan itu juga akan merangkap, ketika sang ibu dan istri harus bekerja membantu perekonomian keluarga.
Kita lihat disana-sini, pada artis akan maju malah saat ada managemen baik yang menyokongnya. Kehidupan ibu dan istri juga seperti manager para artis bagi anak-anak dan suaminya.
Maka tiada terkira terima kasihku pada Ibunda, yang telah menjadi pencari bakatku, sekaligus manager yang telah menyokong segala aktifitasku selama ini.
Sebagai istri, dan insyaALlah calon ibu, pada akhirnya keteladanan sosok ibu menjadikanku menemukan bakatku yang baru, yaitu “pencari bakat”
Terima kasih ibu, Selamat Hari Ibu… Aku sayang selalu